Karena tanda segalanya terasa tegas jelas menyusup logika, seakan takdir telah dipertontonkan dihadapan tubuh yang seakan kuat.
Mengapa realita setingkat lebih sulit dari harapan kebanyakan manusia, mengedepankan air mata membelakangi kebahagiaan.
Apa rasa yang tak bisa kusebut cinta ini sebegini rumitnya? Pipi yang basah selalu mendapat bagian yang paling besar didalamnya.
Suara paling keras yang tak pernah pamit pun seakan tak mampu menyeruak ke udara lalu berbaur dengan unsur-unsurnya, tetapi berlanjut menjadi air mata yang tetap mendominasi. Ia yang berpura-pura sadar atau tak menganggapnya sama sekali, kadang hadir bak sekelibatan bayangan yang mampu membuat potongan-potongan tanda kembali menyatu dan membisikan untuk tetap percaya akan ketidakmungkinan. Betapa pun hati ini mengharap raga yang membawa jiwa hadir tanpa pulang. Jika memang tidak akan pernah menjadi sebaik itu, yang kutahu tugasku hanya menyelipkan secuil harapan yang tersisa, lalu tetap berucap syukur atasNya dan terus memujaNya tanpa terkecuali.
No comments:
Post a Comment