Monday, February 1, 2016

Untuk sahabat dalam tangis dan bahagia yang sama, indi.

Rotasi kehidupan terasa seperti tanpa poros, berputar bebas tanpa awas dan akhirnya lepas. Sering hidup ini meminta apa yg tidak bisa kita berikan, mengejar apa yg tidak bisa diraih dengan berlari, memaksa apa yg tidak bisa kita pilih, dan menuntut lebih untuk hal yg tidak pernah berbanding lurus dengan realita. Memaknai hidup memang tak perlu sekeras ini. Tapi mensejajarkan senyuman dengan pipi yg basah pun tak semudah menahan agar tetesnya tak pergi. Biarkan jiwamu berbicara dengan menyingkirkan peluh-peluh yang ikut tertawa. Kamu tidak perlu takut berbeda, karena kita dalam lindungan Pencipta yang sama. Bagaimanapun semestinya kini, hidup tetap memintamu untuk menikmati banyak kejutannya yang sempurna.

Hitam tidak selalu hitam

Hidup itu cuma ada diantara dua. Dua warna. Hitam dan putih. Hitam untuk sisi baik. Putih untuk sisi buruk. Hidup penuh warna itu nyatanya terlalu kelabu, sekedar omong kosong. Dan dia, dia yang membuat tulisan ini terkesan terbalik. Dia yg membuat saya begini adanya. Dia mengajarkan saya cara melihat hidup buruk menjadi baik, dan hidup baik menjadi terbalik. Untuk hati, saya sakit. Dan untuk dia, saya kecewa.

Sunday, January 31, 2016

Hujan Baru Dipenghujung Hari

Kali pertama hujan yang saya suka kini berubah. Bertolak 180 derajat lebih nyaman dan tenang. Hujan yang tidak hanya mampu memberi nafas, tapi juga mampu menghidupi. Saya harap kilatnya tidak merobek retina, pun gemuruhnya tidak menggetarkan raga. Hujan tanpa petir itu tidak pernah sempurna. Tak peduli seberapa buruk petir yang mendampingi, hujan tetap menjadi magnet yg melekat untuk selalu disyukuri.

-didedikasikan untuk potongan hati yang utuh kini bertransformasi menjadi baru, kamu.

Untuk sahabat terkasihku, Fera

Menjadi tuli bisu buta secara tiba-tiba itu kadang perlu, untuk membatasi diri dari cibiran tidak berguna, ucapan tidak bermakna, serta pandangan menusuk retina. Bahagiakanlah dirimu sendiri dengan tidak memperdulikan mereka yang sibuk mencacimu.

Entah dia atau mereka

Hidup satu arah itu terlihat hitam putih. Terlalu kelabu menyerupai semu. Kamu dan mereka sengaja menambahkan merah di dalamnya hingga kini hidup berputar tanpa arah. Mendapati jiwa yg tak pernah kuat ditopang raga dengan wajah merona dibalut hina. Siapa peduli.

Hujan

Saya menyukai hujan lebih dari pelangi. Hujan yg mengejutkan dan pelangi yg membutakan. Seperti kecepatan yg tetap berbanding terbalik dengan waktu dalam hitungan jarak. Setiap tetes yg jatuh tahu kemana akan pulang, basah yg seiring dengan udara, dan petir yg berusaha menolak semu. Sejak awal awanlah yg paling keras berteriak jika pelangi lebih menggoda dari hujan. Pesona yg lahir dari balik pelangi justru melumpuhkan sendi-sendi dengan empedu yg terbelah dan hanya menyisakan pahit. Pelangi itu imajinasi kelabu. Bualan yg berbisa. Dan kesetiaan yg menekan. Saya harap kamu cukup dari sekedar hujan yg memberi aroma khas tanah basah yg tiada henti untuk saya hirup.

Satu

Tuhan, mengapa ini terjadi lagi? Mengapa yg dulu pergi kini hadir kembali? Mengapa logika ini buntu? Mengapa otak ini membeku? Dan mengapa hati ini kelabu? Apa harus ditambah 370hari lagi? Atau lebih? Apa harus dengan raga yg lumpuh dan hati yg tersayat untuk menyerap seperempat tetes hikmah menuju pori-pori? Mengapa seperih ini? Mengapa pipi basah dgn nafas yg tercekat kuat selalu menjadi bagian paling tinggi?
17.520 jam hanya berfikir ttg satu. Satu yg menyemangati tp ternyata melukai. Satu yg indah tapi membutakan. Satu yg meninggikan tp ternyata menjatuhkan. Aku harus apa? Menjahit luka ini sendiri? Tetap buta dan akan terperosok utk ketiga atau bahkan lebih lagi? Atau mencoba berdiri dengan memar sana sini?
Tuhan, padamkan hati ini. Sejukan jiwa dan tegakan badan ini, dengan sabar tak berbalas dan ikhlas tiada berbekas.

Keheningan Senja

Seberkas cahaya langit yang tersapu gelap atau semesta yang terus berputar tanpa arah
seperti dia yang sengaja hilang dengan bayang atau saya yang tetap berdiri tanpa dicari?
Betapa kamu tahu saya sanggup membisu untuk itu.
Tapi sekarang saya sadar, ternyata saya hanya sedang berdialog dengan diri saya sendiri,
Mencoba mengalihkan kalau jiwa ini tidak hanya terdiri dari logika untuk menukar kata, tapi juga hati yang tanpa sadar dapat merubah rasa.

Hujan. Tanda. Dan kamu.

Tuhan aku rindu. Rindu tetesan nikmatMu yg entah jatuh di tanah atau di epidermisku. Aku rindu tandaMu. Tak terkecuali rindu pada hambaMu. Hadirnya itu syukurku. Raganya ialah penuntunku. Dan sosoknya tentu penyemangatku. Seiring logika dan seberkas rasa kadang aku memaknainya sebatas praduga. Pencarian tanda yg tak pernah terlihat lagi hingga hujan turun dengan dia yg tetap kuat mematung tak bersalah. Kini aku. Separuh aku menariknya keras, separuh yg lain tak lagi berenergi. BisikNya menuntunku utk menikmati tiap prosesnya. Sabar yg tak perlu diucap. Kuatnya jiwa yg tak pantas bersua. Ditambah raga yg tak pernah satu inci pun bergerak. Kini hujan memberi tanda dgn memberikan jarak antar kita menjadi aku dan kamu.

-untuk kamu yg selalu mendapat porsi terbanyak di setiap potongan hati.

Ketidaktahuan yang indah

Dari rasa yang tersembunyi, aku harap hadirnya tidak seperti pelangi, langit yang dibuatnya indah tapi hanya sesaat. Seperti hal nya terang yang tdk akan pernah bertemu malam. Karena untukku, hadirnya menyempurnakan jiwa, menyusup dalam ingatan. Seperti penerang dikala gulita, layaknya penyemangat disaat lemah. Kala rasa yang Engkau beri, aku percaya dengan hadirnya ia mampu membuatku selalu ingat diri-Mu, yang mampu mencintaMu lebih dari mencintaku. Ia yang sangat takut menduakanMu, maka takut menduakanku. Karena cinta yg seharusnya adalah mencinta sang Pencipta lebih banyak daripada yg lain. Engkau yg maha tahu untuk setiap hati, mendamba ciptaanMu, mendamba cinta yg datang seiiring pahala, sampai Engkau berkenan menyatukan dan memisahkan untuk berpulang kepadaMu.

-semoga Allah selalu merahmatimu, dan memberiku inspirasi lewat kamu.
(

Kagum dengan dia yang salah

Cara saya mengaguminya tidaklah wajar, menyikapi tawanya dengan harap yang kian hari kian sesak menyekat tenggorokan. Segalanya terasa begitu langka sehingga amat perlu untuk diabadikan disetiap detailnya. Dia mampu menciptakan apapun yang membuat saya sanggup untuk mengamini. Ajaibnya hanya dia yg mampu melekuk senyum tanpa paksaan. Menyajikan titik manis yang semakin menggunung. Logika akan selalu menjadi opsi ketika hati mendominasi. Saat semuanya terlihat berkilau tepat didepan mata, sering dia berlomba dengan kilat dan sengaja merubahnya menjadi sesuatu yg teramat gelap sampai bisa membutakan mata. Sadarnya saya bukan sadarnya dia. Sekarang, saya hanya harus berpura-pura membuat semuanya tetap pada rotasinya walau ternyata semesta telah bergetar menuju kesia-siaan.

Potongan Tanda

Karena tanda segalanya terasa tegas jelas menyusup logika, seakan takdir telah dipertontonkan dihadapan tubuh yang seakan kuat.
Mengapa realita setingkat lebih sulit dari harapan kebanyakan manusia, mengedepankan air mata membelakangi kebahagiaan.
Apa rasa yang tak bisa kusebut cinta ini sebegini rumitnya? Pipi yang basah selalu mendapat bagian yang paling besar didalamnya.
Suara paling keras yang tak pernah pamit pun seakan tak mampu menyeruak ke udara lalu berbaur dengan unsur-unsurnya, tetapi berlanjut menjadi air mata yang tetap mendominasi. Ia yang berpura-pura sadar atau tak menganggapnya sama sekali, kadang hadir bak sekelibatan bayangan yang mampu membuat potongan-potongan tanda kembali menyatu dan membisikan untuk tetap percaya akan ketidakmungkinan. Betapa pun hati ini mengharap raga yang membawa jiwa hadir tanpa pulang. Jika memang tidak akan pernah menjadi sebaik itu, yang kutahu tugasku hanya menyelipkan secuil harapan yang tersisa, lalu tetap berucap syukur atasNya dan terus memujaNya tanpa terkecuali.

Tanda

Saya menyukai tanda. Saya percaya setiap tanda itu nyata, setiap tanda itu ada. Saya juga percaya beberapa tanda sengaja dihadirkan Tuhan untuk tiap-tiap jiwa di dalam raga. Entah mereka sadar atau tidak, ketika Tuhan menyebarkannya disetiap sudut hati atau pun logika. Tapi jika tak kau temukan tanda, kau hanya perlu mencarinya, menghubungkannya dengan akalmu, lalu membuatnya nyata.

Oksigenku

Melepas apa yang sebenernya tidak ingin kau lepas atau bahkan tak pernah kau fikirkan sebelumnya itu seperti engkau sekuat tenaga mencoba tersenyum dan bergerak normal agar bisa kau pastikan kau dapat bernafas tanpa tersendat.

Antara tetes dan dia

Semacam langit yang dengan sekejap menguap lalu menjatuhkan tetesnya ke sungai dan berharap dapat mengalir ke laut tanpa tepian, begitupun kamu meletakkan aku tepat diposisi jatuh sedalam-dalamnya pada pengharapan yang berlebih tanpa peduli.

-fkrnrhfzh

Pensil dan Kamu

Entah mengapa aku lebih suka menuliskannya dengan pensil, menggoreskan garisnya disetiap panjang dan lebar dengan tegas bagiku semudah penghapus mempermainkan warna kelabunya. Tapi do'aku atasmu tidak sesingkat itu, walau kadang harapan terbang sampai logika tak mampu mendaki, pun terjatuh sampai raga tak mampu berdiri. Aku tetap menorehkan garisnya setebal yang aku bisa, walau aku tau akan hadir penghapus yang pasti bisa meniadakan garis tebal tanpa bekas nantinya.

Alur ketetapanNya

Hati seperti terbolak-balik, dan logika yang tidak pernah sejalan dengan hati pun kini dipaksakan bergandengan, beriringan menatap samping. Mulut yang selalu berbusa mebisikan harapan yang sama disetiap malamNya, kini bisu tanpa celah. Mungkin memang seharusnya seperti ini, menjalaninya dengan cukup memahami dan mengikuti alur ketetapanNya tanpa protes.

-fkrnrhfzh

Sepotong yang Hilang

Walau kadang logika menepis hati, bayangan yg melayang tanpa batas lalu jatuh bebas tanpa awas, kamu tetap mendapat bagian terbanyak dari setiap irisan hati.
Saya percaya Tuhan ambil andil dalam setiap masalah logika dan hati yg berkelahi tanpa definisi.

-fkrnrhfzh

Setitik Harapan

Harapan yg tidak pernah berganti, semoga Allah mengumpulkan hati kita dan menuntunnya ke arah yang sama. Membawanya melewati setiap tapak dengan gagah. Semua akan berjalan sesuai kehendakNya apabila kamu cukupkan Dia sebagai penuntunmu.
Semoga Engkau selalu mencukupkan rahmatMu untukku lewat ia yang Engkau hadirkan tepat dibelakangku sebagai pelindung dan tepat didepanku sebagai penuntun.
Dan pula Engkau cukupkan rahmatMu atasnya lewat aku yang Engkau letakan tepat disamping kanannya sebagai  pembaharu dan tepat disamping kirinya sebagai penopang.

Hadirnya itu membungkam


Pergilah jika memang tidak ingin tinggal.
Karena hati ini telah tidur, entah kapan akan terbangun lalu bersorak.
Tidak perlu dipaksa bangun tapi malah membius.
Aku tidak pernah menyuruhmu menetap bahkan meratapi.
Tapi kau malah dengan sengaja menyodorkan pemanis.
Lambungku tidak butuh pemanismu, karena itu membuat mual
Pun tidak perlu membuatnya semakin asam, karena itu terlalu meremas.
Untuk kamu, jangan datang jika untuk pergi
Jangan kembali jika akhirnya pulang.

Kesia-siaan

Seketika tersadar, saya hanya tidak cukup mengerti. Layaknya gelap yg merindukan pancaran sinar, seperti setetes air yang selalu ingin menjatuhkan dirinya ke laut. Kamu seperti akibat yang tidak kenal sebab. Seakan semua terpampang karena disengaja. Kenapa kamu membangunkan hati yg sedang terlelap? Membawanya melayang tanpa peta, meniupkan uap uap ketenangan, menjadikannya hidup dengan harapan, membuatnya terus memujamu ke Penciptanya? Sekarang, setelah Tuhan membuka satu per satu pintu yang menuju ketempat dimana saya selalu berharap, bagi saya, kamu tidak lebih dari zat yg selamanya bergantung dengan Penciptamu, Pelindung kita.

karena Penciptamu tidak tidur

Ia datang mengenyahkan hampa di tiap lekuk jiwa. Hadirnya mampu membolak balik logika. Tapi sejatinya ia tak lebih dari penyemangat hati, pembatas diri. Tuhan memberi agar dapat dimaknai, hanya untuk disyukuri semestinya. Jangan mengharap banyak apa yang tidak dapat digenggam, karena mungkin Tuhan memperlihatkannya hanya untuk membuatmu tersenyum, untuk perlu sedikit membuka mata bahwa kenyataan tak pernah sejalan dengan khayalan.
Tapi tetaplah percaya semua akan ada tepat didepan mata, jika kamu terus memujaNya.

Transparansi Inspirasi

Satu dari beribu anugrah Tuhan yang tercipta disana. Seringkali aku tak menanggapi hal-hal yang patut aku syukuri kehadirannya, karena kenyataannya segala yang diciptakan Tuhan selalu ada alasan sebagai hadiah tambahan dengan sebuah makna besar didalamnya.
Memaknai yang tersurat lewat karya Tuhan yang paling indah. Disekitarnya, aku belajar banyak hal. Aku percaya, ia diciptakan untuk banyak alasan, salah satunya untuk menghidupkan pikiran yang mati. Tuhan sengaja menyelipkannya didalam, yang mampu menyebarkan kepingan kebahagiaan disetiap hati, menyimpulkan senyum di diri ciptaanNya yang lain. Disisi lain, aku lebih banyak memaknainya seperti sesuatu yang tak berujung.
Ketika tersadar, lalu aku membawanya ke ruang yang nyata. Aku tidak ingin membuatnya seperti uap yang berhembus sia-sia, dengan hidup disekelilingnya merubah uap itu menjadi air, air yang menghidupi kehidupan, layaknya diri yang menyemangati diri yang lain.

-terinspirasi dari salah satu makhluk Tuhan yang cerdas, kamu.

Filosofi Hujan

Turunnya hujan lebih dari sekedar membasahi, ia hadir menghidupi setiap partikel dibumi.
Menantinya turun itu kebahagiaan yg tidak dimengerti banyak orang.
Saya yakin hujan diciptakan sebagai perwujudan kasihNya. Tuhan selalu membuat segalanya indah dengan menyelipkan pelangi setelahnya. Redanya hujan lalu diikuti pelangi adalah penggabungan dua kenikmatan surgawi. Tidak ada yg lebih menyenangkan dari melihat setiap tetesnya turun. Karena menurut saya, hujan itu kamu.