Kali pertama hujan yang saya suka kini berubah. Bertolak 180 derajat lebih nyaman dan tenang. Hujan yang tidak hanya mampu memberi nafas, tapi juga mampu menghidupi. Saya harap kilatnya tidak merobek retina, pun gemuruhnya tidak menggetarkan raga. Hujan tanpa petir itu tidak pernah sempurna. Tak peduli seberapa buruk petir yang mendampingi, hujan tetap menjadi magnet yg melekat untuk selalu disyukuri.
-didedikasikan untuk potongan hati yang utuh kini bertransformasi menjadi baru, kamu.
No comments:
Post a Comment