Sunday, January 31, 2016
Hujan
Saya menyukai hujan lebih dari pelangi. Hujan yg mengejutkan dan pelangi yg membutakan. Seperti kecepatan yg tetap berbanding terbalik dengan waktu dalam hitungan jarak. Setiap tetes yg jatuh tahu kemana akan pulang, basah yg seiring dengan udara, dan petir yg berusaha menolak semu. Sejak awal awanlah yg paling keras berteriak jika pelangi lebih menggoda dari hujan. Pesona yg lahir dari balik pelangi justru melumpuhkan sendi-sendi dengan empedu yg terbelah dan hanya menyisakan pahit. Pelangi itu imajinasi kelabu. Bualan yg berbisa. Dan kesetiaan yg menekan. Saya harap kamu cukup dari sekedar hujan yg memberi aroma khas tanah basah yg tiada henti untuk saya hirup.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sangat menarik dan puitis sekali
ReplyDelete