Entah mengapa aku lebih suka menuliskannya dengan pensil, menggoreskan garisnya disetiap panjang dan lebar dengan tegas bagiku semudah penghapus mempermainkan warna kelabunya. Tapi do'aku atasmu tidak sesingkat itu, walau kadang harapan terbang sampai logika tak mampu mendaki, pun terjatuh sampai raga tak mampu berdiri. Aku tetap menorehkan garisnya setebal yang aku bisa, walau aku tau akan hadir penghapus yang pasti bisa meniadakan garis tebal tanpa bekas nantinya.
No comments:
Post a Comment